“Kalo mau bisnis itu yang penting kalian harus dekat dengan Allah.
Karena siapa yang ngasih kita rezeki kalo bukan Allah? Jangan lupa shalatnya,
buat yang laki-laki usahakan shalatnya di masjid. Tidur 4 jam itu cukup. Kalo
tidur jam 9, jam 1 udah bangun. Shalat tahajud terus mengadu sama Allah. Di
tengah sepinya malam itu kita minta supaya semua urusan kita hari itu dilancarkan.”
(Dr Indah Yuliasih,
STP, MSi)
Kurang lebih seperti itu nasihat
yang beliau berikan kepada beberapa mahasiswa, termasuk saya pada hari jum’at
15/11/2013 di ruang sidang Teknologi Industri Pertanian seusai pertemuan
mahasiswa technopreneur dan capstone. Sebenarnya lebih panjang yang
beliau sampaikan, tetapi kalimat yang tertulis tersebut cukup untuk mewakili
tema tulisanku kali ini. Selalu terngiang pesan dosen pembimbing skripsi saya
itu agar tidak hanya kita sibuk dengan urusan dunia, tetapi juga harus
disibukkan dengan urusan akhirat. Beliau Insyaallah sudah mencontohkannya, dan
semoga itu tertular kepada kami anak bimbing dan mahasiswa/i-nya. Rabu,
27/11/2013 pun saya mendapat sms dari beliau yang tertulis,
“Mohon maaf, pertemuan hr ini diundur ke hr jum’at pagi ya.. soalnya
semalam sy selesai rapat di IPB jam 11 malam. Istirahat dulu. Tksh.”
Melalui pesan tersebut beliau
memberitahukan kepada saya dan 2 orang rekan saya yang lain bahwa bimbingan
skripsi kami diundur menjadi hari jum’at. Tetapi bukan poin itu yang menjadi
perhatian saya sejak pertama kali saya menerima pesan beliau. Rabu itu saya
bangun sekitar pukul 03.30 pagi. Di tengah kesunyian itu hp saya pun berdering
pada pukul 03.48 (waktu indosat), dan itu adalah sms dari dosen pembimbingku,
Bu Indah. Yang terlintas setelah membaca pesan dari dosen saya itu adalah, “Baru beres rapat jam 11, itu sampe rumah
belum tentu langsung tidur kayaknya, dan udah bangun lagi sebelum shubuh..
Subhanallah..”. Jadi malu kadang sama diri sendiri. Saya setidaknya sedikit
tau tentang aktifitas beliau. Sekaliber beliau yang aktifitasnya segudang, baik
itu amanah di rektorat, di departemen TIN, juga sebagai pebisnis, beliau masih
menyempatkan diri untuk bangun malam dan mendirikan shalat tahajud. Sedangkan
saya???
Memang kita harus selalu berusaha
menyeimbangkan antara dunia dengan akhirat. Di tengah-tengah hiruk-pikuk
kehidupan dunia yang membutuhkan effort
besar, diharuskan pula kita meningkatkan kualitas ibadah kita. Karena sebagai
seorang muslim tentu kita meyakini bahwa Allah itu akan memudahkan segala
urusan hamba-Nya yang senantiasa memperbaiki urusan akhiratnya.
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya
Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
(QS. Muhammad : 7)
Siapakah pertolongan yang paling
diharapkan selain pertolongan dari Allah? Jika Allah mengatakan “jadi”, maka
“jadilah” sesuatu itu. Jika Allah menghendaki urusan dunia kita mudah, tentu
urusan kita akan menjadi mudah. Sehingga penting bagi kita untuk selalu
memperbaiki hubungan kita kepada Allah. Mulai dari ibadah keseharian kita, shalat
kita, dzikir, tilawah, infaq, aktif dalam kegiatan keagamaan, dan lain
sebagainya.
Selain memperbaiki hubungan dengan
Allah, kita juga perlu untuk memperbaiki hubungan dengan manusia. Bagaimana pun
kita harus membuat diri kita menjadi pribadi yang dicintai oleh orang-orang di
sekitar kita. Kita harus dapat menjadi orang yang senang membantu orang lain
sesuai kapasitas kita, mau mendengarkan orang lain, berhati-hati dalam
berbicara, dan sebagainya. Kita juga harus berusaha membuat diri ini memiliki
nilai manfaat bagi banyak orang. Karena sebaik-baik manusia pun ia yang
bermanfaat bagi orang-orang sekitarnya. Sehingga dengan semangat memperbaiki
diri dan bermanfaat bagi orang lain inilah yang akan membuat kita akan selalu
berusaha untuk menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Amiin. Wallahu’alam bish shawaab...
Nasihat untuk diri saya pribadi yang utama, serta untuk teman-teman sebimbingan : Fahmi, Ela, Dika, Velly, Meyta, dan Wenny.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar